Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Mantan Eksekutif Starbucks Yang Resign Untuk Membangun StartUp

Menjadi orang remaja, membuat eks eksekutif Starbucks Adam Brotman mendapatkan buah pikirannya di area yang tidak tersangka, tempat parkir Costco. Di tahun 1982, pamannya Jeff Brotman turut membangun jaringan toko ritel dengan format besar dengan James Sinegal. Serta di saat Brotman berumur 16 tahun, ia diambil untuk mengontrol kereta berbelanja di lokasi pertama toko di Seattle.


Brotman, yang lantas memegang dalam peranan kepimpinan pucuk di Starbucks serta J. Awak, memberi pujian tugas pertama itu dengan menyebabkan semangat kepengusahaan yang membuat masuk ke usaha.


"Sampai di saat saya menggerakkan gerobak di tengah-tengah hujan, melihat paman saya serta Jim membuat perusahaan iconic ini dari jarak dekat, memastikan standard kemajuan yang tinggi. Itu membuat sela untuk bagaimana saya melihat kemajuan," kata pria berumur 52 tahun itu terhadap CNBC.


Warga asli Seattle itu mengawali profesinya menjadi pembela perkara, akan tetapi stop dari prakteknya pada umur 27 untuk mengeluarkan perusahaan service selingan dalam toko PlayNetwork. Selesai beberapa pekerjaan di perusahaan lain, Brotman masuk dengan Starbucks di tahun 2009.

Banyak Pelajaran Berharga Saat di Starbucks

Bila Anda pernah gunakan point Starbucks untuk mendapat latte gratis atau membeli di program, Anda bisa mengucapkan terima kasih terhadap Brotman. Ia habiskan nyaris satu dasawarsa menjadi chief digital officer Starbucks serta EVP operasi retail global membuat program penghargaan serta basis digitalnya.


Program Starbucks dipandang sebagai standard emas untuk waralaba. Pada April, bisnis mobile meliputi lebih dari 25 % dari semuanya pesanan Starbucks di Amerika Serikat. Akan tetapi Brotman tidak mengeluarkan program menjadi project akhir yang udah usai.


Pertama, Starbucks mengeluarkan feature komitmen serta pembayaran, lantas menambah fungsionalitas untuk pemesanan serta penjualan. "Program ini tidak sukses dalam tadi malam. Kami selalu menaikkan serta mengganti bermacam soal berdasar operan balik konsumen."


Membuat feature pesanan mobile yakni sisi sangat susah dari pengerjaan program, menurut Brotman. Serta sertakan beberapa klub besar termaksud penjualan, trick pembayaran, serta operasi. Proses itu mengarahkan Brotman utamanya menyesuaikan arah bersama, membikin kombinasi jalan lebih lancar, serta cara inovatif untuk pecahkan problem.


"Ada tempat pertemuan tiada jendela berada di belakang kantor saya di Starbucks, serta saya menanyakan terhadap staff perawatan kami apa kami dapat mengecat semuanya dinding berbahan papan tuliskan. Tiap-tiap minggu semuanya klub dapat bersua bersama di ruangan perang itu serta kami dapat mengulas tiap-tiap inch tempat itu dengan beberapa ide untuk menaikkan program."


Orang dapat menginginkan Brotman membuat keberhasilannya di Starbucks, baik dengan selalu jalankan peranannya di situ atau memburu tugas mirip di perusahaan Fortune 500 yang lain. Kebalikannya, ia tinggalkan Starbucks di tahun 2018 untuk masuk dengan J.Awak, di mana ia jadi presiden serta co-CEO, suatu lompatan yang tidak dimotivasi oleh kesayangan pada model akan tetapi untuk New York, tempat perusahaan itu ada.


"Saya serta istri saya selalu pengin tinggal di New York, pusat semesta alam. Saya memutus kini saatnya untuk sedikit meregangkan diri dengan tempatkan diri saya pada keadaan anyar yang tidak nyaman, serta saya semangat untuk mengaplikasikan beberapa pelajaran yang saya studi di Starbucks ke merk Amerika yang iconic serta berlainan."


Brotman tinggal di J.Awak waktu setahun, yang dia habiskan untuk mengeluarkan program komitmen merk dengan asa bisa meniru beberapa pembaruan digital yang dia membawa ke Starbucks. Ia pengin membikin program mobile untuk merk serta menaikkan penjualan yang dipersonalisasi, akan tetapi ia menyampaikan project itu "tidak didahulukan" oleh klub.


Lantas, Brotman mendapatkan wahyu: banyak usaha tidak memakai data seperti yang tengah dilakukan Starbucks untuk mempersonalisasi penjualan serta pengalaman pemakai mereka, yang pada gilirannya perkuat pertalian mereka dengan konsumen.


Kembali lagi ke Seattle serta mengawali semua

Kangen dapat Seattle serta pengin berwiraswasta kembali, Brotman berpindah kembali lagi ke Washington. Di situ lah CEO Starbucks Kevin Johnson mengenalkannya terhadap Jon Shulkin, ketua Eatsa, rantai makanan cepat sajian yang semuanya automatic di California. Pasangan ini pengin mengganti start-up yang bertarung jadi basis feature lunak yang menolong merk pelanggan, restaurant, serta rantai retail yang lain mendigitalkan usaha mereka.


Johnson serta beberapa sponsor modal ventura memasukkan Brotman untuk pimpin penyeluncuran kembali perusahaan menjadi Brightloom. Di tahun 2019, Brotman jadi CEO perusahaan rintisan yang berbasiskan di Seattle (serta ditopang Starbucks), di mana dia serta teamnya sedang membuat feature lunak yang menolong usaha kecil gunakan alat seperti pemesanan digital serta penjualan yang dipersonalisasi. Starbucks pun menyertifikasikan tehnologi mobile serta program loyalitasnya terhadap Brightloom maka dari itu konsumennya bisa pakainya untuk usaha mereka sendiri.


Rintangan jalankan start-up diperburuk oleh endemi virus corona. Di saat sewa kantor Brightloom usai di awal kritis, Brotman memutus ia serta 51 pekerjanya harus berpindah ke tugas jarak jauh tetap, suatu proses yang ia sebutkan aneh serta mengerikan, namun juga gemilang.


Usaha Brightloom pun mendapatkan dorongan dari endemi sebab kebanyakan usaha harus online untuk terjalin dengan konsumen. "Ini menimbulkan usaha punya rasa urgensi yang tinggi untuk cari tahu bagaimana punya pertalian digital yang lebih bagus dengan konsumen mereka," jadi Brotman. Menurut Crunchbase, Brightloom udah kumpulkan dana lebih dari USD45 juta.


Berpindah dari bekerja di C-Suite dari beberapa merk terpopuler di dunia jadi pimpin suatu perusahaan rintisan kecil yang relatif tidak dikenali yakni soal yang mengagetkan. Akan tetapi di saat ia naiki tangga perusahaan, Brotman memahami kalau untuknya, kebahagiaan serta pemenuhan karier tidak sesuai arti tradisionil mengenai kemajuan.


"Sampai di saat saya masih remaja, saya selalu mendapat banyak energi untuk coba pecahkan problem serta membuat suatu hal yang anyar, sebagai pokok dari start-up. Itu sangatlah memberinya saya energi maka dari itu kadangkala saya sampai lupakan kegalauan eksistensial bekerja dalam sesuatu perusahaan rintisan."


Pastinya, ambil efek serta berpindah karir dapat jauh semakin mengerikan di saat Anda tidak ada pada status Brotman, serta tidak punya bantuan keuangan juta-an dolar, atau beberapa pimpinan Starbucks serta Costco menjadi tutor. Akan tetapi CEO mengharapkan ia bisa menggerakkan pihak lain untuk sedikit berani dalam karir mereka.


"Pertimbangkan pemain tenis professional - mereka harus kuasai service, backhand, forehand, serta net play mereka sebelumnya mereka dapat menjadi yang terbaik. Awali dengan arah akhir dalam pemikiran, lantas pisah kerajinan jadi beberapa sisi komponennya serta yakinkan Anda punya keinginantahuan cendekiawan serta prinsip untuk tiap-tiap cara proses evaluasi," tutupnya.

Post a Comment for "Kisah Mantan Eksekutif Starbucks Yang Resign Untuk Membangun StartUp"